cahUnnes.com – Tak hanya mobil surya, mahasiswa ITS juga mampu membuat kapal bertenaga surya. Kapal yang dibuat oleh sembilan mahasiswa Jurusan Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) tersebut tengah disiapkan guna mengikuti perlombaan Dong Energy Challenge 2014 di Belanda. Hebatnya, mereka adalah satu-satunya tim asal Indonesia yang ikut berlaga dalam kontes kapal berbahan bakar surya tersebut.

Candra Prasetyo Endro, ketua tim mengatakan, konsep pembuatan kapal tersebut sudah dimulai sejak tahun 2011. Namun, proses pengerjaannya baru bisa dilakukan tahun 2012 yang lalu. Pembuatan kapal tersebut berawal dari dorongan dosen-dosen Siskal yang menuntut mahasiswanya untuk bisa menerapkan ilmu yang telah mereka dapat. Terlebih lagi jika mampu bersaing di kancah internasional.

Hingga saat ini, sekitar 70 persen badan kapal beserta instalansinya sudah selesai digarap. Tinggal penyempurnaan di beberapa bagian yang memang masih butuh pengerjaan yang lebih lanjut. Rencananya, kapal ini akan mereka selesaikan pada bulan April mendatang. Pasalnya, perlombaan akan resmi digelar pada 28 Juni mendatang.

Membuat kapal memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi kapal yang dibuat adalah kapal dengan bahan bakar yang berasal dari sinar matahari serta membutuhkan proses yang cukup lama. Dalam hal ini, mereka harus bisa mengubah sinar matahari menjadi energi listrik, yang nantinya akan dibuat untuk menggerakkan propeller pada kapal.

Dengan menggunakan panel surya, cahaya akan diubah menjadi energi listrik dan akan disimpan dalam baterai. Dalam Dong Energy Chalenge 2014 kali ini, daya yang boleh disimpan dalam baterai tidak boleh lebih dari 1 kilowatt (Kw).

Kapal dengan panjang lima meter dan lebar 1,5 meter itu bisa dibilang hemat dan cukup efisien. Kapal tersebut mampu menerapkan energi yang sangat sedikit. Hanya dengan 1 Kw, kapal dengan tinggi 60 sentimeter tersebut mampu melaju dengan kecepatan 10 knot. Bahkan, efisiensi pemakaian energi baterai pun mampu mencapai 85 persen. “Ini bisa dibilang sebuah ecogreen technology,” imbuh Candra.

Selain itu, berdasarkan running test yang telah dilakukan, kapal yang mempunyai sarat air setinggi 25 centimeter ini sudah bisa berlayar dengan stabil. Bahkan menuvernya juga sudah semakin baik. “Kita juga mengutamakan aspek safety pada kapal,” ujar mahasiswa angkatan 2010 tersebut.

Dana masih menjadi kendala dari Marine Solar Boat Team. Sejauh ini mereka mendapat dana dari beberapa dosen di jurusannya. Selain itu mereka juga memperoleh bantuan dari pihak jurusan serta beberapa sponsor. Untuk pembuatan kapal, hingga saat ini mereka sudah menghabiskan dana sekitar Rp 50 juta. Sedangkan untuk pendaftaran saja, mereka harus merogoh kocek hingga Rp 30 juta. “Perkiraan saya, secara keseluruhan dana yang dihabiskan akan mencapai Rp 100 juta,” jelas Candra.

Besarnya biaya tersebut juga tidak terlepas dari mahalnya barang-barang yang dibutuhkan untuk pembuatan kapal. Kebanyakan barang yang dibutuhkan juga tidak tersedia di dalam negeri. “Untuk mesin saja kita datangkan dari Jerman,” selanya.

Lebih lanjut, ia berharap agar kapal tersebut bisa selesai dan sesuai dengan yang diharapkan. Mengingat tim ini adalah satu-satunya wakil Indonesia di kompetisi berkelas internasional tersebut. “Ini bisa meningkatkan eksistensi serta pencitraan FTK ITS di kancah internasional,” tambahnya. Selain itu, menjadi juara tentu menjadi hal yang sangat diharapkan.

Tak hanya itu, ia juga sangat berharap agar proses pembuatan kapal ini mendapat perhatian yang khusus dari pihak-pihak yang terkait. Hal ini guna membekali kompetensi mahasiswa di bidang ilmu maritim. “Indonesia adalah negera maritim. Oleh karena itu, dibutuhkan perhatian yang khusus untuk berkembangnya maritim itu sendiri,” tutupnya

Sumber : Its.ac.id

LEAVE A REPLY