cahUnnes.com – Inilah seorang pemuda sederhana dari Kampung Jagan, Gentan Banaran, Plupuh, Sragen yang kemarin sempat menjadi bibir pembicaraan dikarenakan aksi menggenjot becak dari Solo menuju Sragen dalam waktu empat jam pada Kamis (28/10), lalu.

Adalah Widri yang melakukan aksi itu, sebagai wujud suka citanya menyelesaikan kuliah dengan predikat 3,55 dari kampus Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta.

Putra ketiga dari pasangan Paino Notowijoyo dan Mulyati tersebut berhasil lulus dari bangku kuliah setelah menyelesaikan seluruh mata kuliah di Jurusan Pendidikan Keolahragaan, Spesifikasi Tenis, selama tiga tahun sembilan bulan dan memperoleh nilai A pada 18 mata kuliah tersebut.

Semasa kuliah, untuk menutup biaya hidup di Solo dan membayar biaya kuliah, Widri berjualan es sari kacang ijo di kampusnya. Jika mahasiswa lain berangkat ke kampus sekitar pukul 07.00 WIB, Widri sudah tiba di depan kampus sekitar pukul 06.00 WIB. Bukan untuk membaca buku kuliah atau mengerjakan tugas, melainkan untuk membuka lapak es sari kacang hijau di sekitar pintu gerbang kampus.

Lapaknya fleksibel. Sehingga saat ada jam kuliah, Widri menutup sementara lapaknya dan menitipkannya kepada satpam kampus, dan kembali membuka lapaknya setelah jam kuliah usai. Pelanggannya variatif, mulai kalangan mahasiswa hingga kalangan dosen UTP.  Bahkan banyak dosen pelanggannya yang memberikan uang lebih saat membeli es sari kacang hijau buatannya.

Berjualan es sari kacang hijau bukan tanpa kendala. Kadangkala Widri harus menanggung rugi karena cuaca tidak bersahabat. Bila sudah dalam kondisi semacam ini, ia pun membagikan es sari kacang hijau tersebut kepada teman – teman kuliahnya secara suka rela dan gratis.

“Kalau rata – rata sehari bisa mendapat keuntungan sekitar seratus ribu rupiah. Cukup untuk biaya kuliah dan biaya hidup di Solo”, terang pemuda Sragen itu.

Widri tidak pernah merasa rendah diri ketika menjajakan es sari kacang hijau kepada para konsumen yang juga adalah teman kuliahnya. Bahkan Widri mengaku bahwa ia semakin termotivasi untuk belajar lebih giat. Hasilnya, ia berhasil menyelesaikan studinya dengan predikar cum laude.

Lelaki jebolan UTP itu menceritakan bahwa ia mulai merintis usaha berjualan es sari kacang hijau semenjak lulus SMS. Saat itu ia melihat peluang berdagang di depan Kampus UTP. Namun, akhirnya ia mendapat tawaran bekerja sebagai marbot (penjaga masjid) di Masjid Kantor Pajak Yogyakarta.

Setelah tiga tahun mengabdi bekerja sebagai marbot. Widri memutuskan kembali hijrah ke Surakarta untuk mewujudkan mimpinya berkuliah dan mendaftar di UTP Surakarta. Ia nekat dengan bermodal gaji sembilan ratus ribu rupiah perbulan dari kantor perpajakan dan dari jualan es. Dan, ternyata modal tersebut hanya cukup untuk biaya selama satu semester.

“Setelah satu semester, saya nggak ada biaya lagi. Orangtua juga cuma tani dan nggak sanggup membiayai. Akhirnya saya jualan sari kacang ijo dan jual pakaian untuk mencukupi kebutuhan saya sendiri,” akunya.

Namun, kini putra bungsu dari tiga bersaudara itu telah membuktikan bahwa usaha dan tekad yang kuat mengantarkan dirinya kepada keberhasilan. Widri di wisuda pada Senin (28/10) lalu dan kemudian memenuhi nazarnya menggenjot becak dari Solo menuju Sragen.

Widri memiliki keinginan besar merantau ke Australia untuk belajar berternak sapi. Untuk mendukung cita – citanya tersebut, Widri kini harus bolak – balik Solo-Pare (Kediri) untuk kursus bahasa Inggris. (IBALH/Tribun)

LEAVE A REPLY