cahUnnes.com – Kebanyakan mahasiswa sering kali menyerukan kata-kata dengan nada tidak enak kepada para koruptor. Mulai dari aksi turun ke jalan maupun dalam forum-forum diskusi. Namun tanpa disadarinya ternyata bibit-bibit menjadi koruptor juga ada pada diri mereka. Misalnya saja korupsi waktu, mencontek saat ujian, korupsi nilai dll. Mugkin hal itu sudah biasa di kalangan mahasiswa dan ternyata ada hal yang lebih luar biasa. Apakah itu? Jawabanya adalah mahasiswa pemakan uang rakyat,mahasiswa yang tidak amanah dalam mengelola, memanfaatkan uang yang di amanahkan rakyat kepadanya. Bukankah uang yang diberikan pemerintah kepada mahasiswa penerima bidik misi juga uang dari rakyat? terus mahasiswa bidik misi yang seperti apa yang dikatakan sebagai tikus-tikus kampus ?

Menjadi mahasiswa bidik misi adalah hal yang patut di syukuri bagi mereka yang berkesempatan. Karena tidak semua mahasiswa yang kurang mampu dapat menikmatinya. Ada banyak sekali orang-orang disana yang berharap bisa kuliah tetapi harus mengubur dalam-dalam keinginannya karena keterbatasan biaya. Ketika keterbatasan biaya menjadi kendala itu bukan akhir dari segalanya karena kesempatan masih tetap ada tetapi untuk sebagian orang yang memiliki kendala tetapi tidak memiliki kesempatan itu lah kendala yang sesungguhnya.Untuk sebagian mahasiswa bidik misi dapat berkuliah tanpa membayar uang kuliah ditambah dengan mendapatkan uang untuk biaya hidup sehari-hari adalah hal yang sudah lebih dari cukup.Seperti halnya teman saya,dia sangat bersyukur bisa kuliah dan mendapatkan beasiswa bidik misi karena memang kondisi ekonomi keluarganya sangat-sangat tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah.Dengan berkuliah dia berharap bisa mengubah nasib keluarganya maka dari itu dia sangat rajin belajar dan benar-benar memanfaatkan dengan baik kesempatan yang dia peroleh.Namun tidak semua penerima beasiswa bidik misi adalah orang yang kurang mampu,dan tidak semua dari mereka adalah orang-orang yang amanah.

Seperti yang kita ketahui bahwa syarat untuk mendapatkan beasiswa bidik misi adalah bagi mereka yang kurang mampu secara finansial tapi pada kenyataannya banyak mahasiswa penerima beasiswa bidik misi dalam kesehariannya di kampus lebih mewah dari pada mahasiswa yang lain.wah..wah.. kok bisa yah ?

Hal ini sangat mungkin terjadi karena mereka merasa memiliki uang sendiri.Dan uang bulanan yang diberikan pemerintah sama halnya uang jajan bagi mereka belum lagi jatah uang dari orangtuanya.Sehingga uang Rp 600.000,00 setiap bulanya yang diberikan pemerintah bisa digunakan untuk membeli baju-baju, sepatu, tas dll kalaupun mereka yang suka menabung mereka bisa membeli Android, Tab, BB dan barang mewah lainnya di akhir tahun dengan cara memindahkan uang dari ATM bidik misi ke ATM yang lain (sengaja dibuat hanya untuk memindahkan uang) sehingga pemerintah tidak curiga. Akan kelihatan tidak butuh jika setiap bulan uang tidak di ambil maka dengan mengambil lalu memindahkan menjadi cara yang dianggapnya aman. Itulah yang terjadi jika alasan miskin menjadi modus untuk mendapatkan keuntungan. Tidak heran ketika kelas menengah malah menjadi termarjinalkan dibanding mereka yang dianggap tidak mampu atau kelas bawah.Karena dengan meraih beasiswa bidik misi mereka dapat naik kelas menjadi kelas menengah dan bahkan menjadi kelas atas.Sehingga kelas menengah lah yang terlihat miskin.

Bukankah hal itu sama halnya dengan para koruptor yang sama-sama tidak amanah dan sama-sama makan uang rakyat?

Ketika dilain pihak mahasiswa meneriakan anti korupsi dimana-mana yang biasanya ditujukan kepada para pejabat tinggi bisa jadi dianatara mereka yang meneriakan adalah seorang koruptor juga,seorang tikus-tikus kampus,bisa jadi tanpa disadari mereka meneriakan anti korupsi dimana-mana namun teman dekatnya adalah seorang koruptor juga.

Sumber : Asrimah Pangestia / Kompasiana.com

LEAVE A REPLY