SEMARANG, cahUnnes.com – Berlatar belakang dari keluarga kurang mampu bukan menjadi alasan untuk tidak berprestasi. Pada kenyataannya, banyak lulusan terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan perolehan index prestasi kumulatif (IPK) tertinggi berasal dari keluarga kurang mampu itu.

Hal itu kembali ditunjukkan Suci Yuli Priyanti (23), gadis asal Banjarnegara. Dengan keinginan membantu orang tuanya, ia berhasil lulus dari kuliahnya dengan IPK 3,94 dan berpredikat lulusan terbaik Unnes.

Suci diwisuda bersama 1.459 lulusan Unnes dari berbagai program dan jurusan.

Suci adalah anak ke dua dari tiga bersaudara pasangan Sucipto Sumaryo (50) dan Salimah (46). Ia sudah berkeinginan kuliah sejak bersekolah di SMKN 1 Bawang, Banjarnegara, Jawa Tengah, namun ayahnya yang bekerja sebagai buruh bangunan dan serabutan membuatnya bimbang.

“Ya, bapak dulu khawatir tidak bisa membiayai kalau saya kuliah,” kata Suci, seperti dilansir laman detikcom, Selasa (16/6/2015).

Ayah Suci, Sucipto mengaku saat mendengar keinginan putrinya untuk kuliah, ia tak punya jawaban. Ia hanya berpikir bagaimana membiayainya. Penghasilannya sebagai buruh serabutan tak pasti. Sementara ia masih harus membiayai adik Suci. ”Saya takut, kalau tidak bisa membiayai Suci,” kisah Cipto.

Guru di sekolahnya yang mengetahui keinginan keras Suci untuk berkuliah kemudian memberitahu jalur masuk Unnes melalui jalur undangan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri dan mendapatka beasiswa Bidikmisi.

“Pas di SMK, guru-guru mendukung dan mendorong saya ikut Bidikmisi. Alhamdulillah SNMPTN saya lolos,” pungkasnya.

Suci diterima sebagai mahasiswa Akuntansi, Fakultas Ekonomi Unnes. Program studi yang dipilih Suci merupakan program favorit dengan ribuan pesaing.

Foto: Suara Merdeka
Foto: Suara Merdeka

Setiap bulan, Suci mendapat biaya hidup Rp 600 ribu, dan biaya operasional pendidikan Rp 400 ribu. “Saya tidak mengirim uang lagi. Kirim sepunyanya, kadang Rp 300 ribu, kadang Rp 400 ribu, itu saja tidak tentu. kadang tiga bulan sekali, kadang ya lima bulan. Sewaktu dia pamit, saya juga tidak bisa kasih sangu, hanya pesen saja sekolah yang bener dan harus jujur,” ujar Cipto.

Untuk mencukupi kebutuhan lainnya, seperti membeli buku, laptop dan biaya lain, Suci tak bergantung pada siapa pun. Sejak Semester II, Suci sudah bekerja sampingan sebagai penata letak jurnal program studi. “Ada pelatihannya sebelumnya. Hasilnya bisa membantu untuk biaya hidup. Jadi cukup-cukup saja,” kata Suci.

Lulus S1 bukan berarti Suci berhenti meraih mimpi, ia ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi demi cita-citanya mengajar di perguruan tinggi. Kini ia sedang mencari informasi beasiswa untuk melanjutkan langkahnya.

“Saya ingin kuliah lagi S2 kalau bisa yang disambi kerja. Ini masih cari beasiswa, mungkin LPDP, ini lagi mempersiapkan persyaratan. Cita-cita ingin jadi pengajar di perguruan tinggi sama berwirausaha,” katanya.

(Bicho/SM/detik)

LEAVE A REPLY