sertifikasi-guru3BEBERAPA waktu lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui laman resminya http://sergur.kemdikbud.go.id merilis informasi mengenai guru yang berhak mengikuti Sertifikasi Guru 2013. Reaksi bernada kekecewaan kemudian muncul, terutama dari guru muda baik melalui jejaring sosial facebook maupun kicauan di twitter.

Nada kekecewaan wajar muncul, karena sebelumnya Kemdikbud telah menyelenggarakan Uji Kompetensi Guru (UKG) secara online yang digadang-gadang sebagai bahan pertimbangan utama seleksi guru yang akan mengikuti sertifikasi. Nyatanya, sebagaian besar yang berhak mengikuti sertifikasi 2013 adalah mereka yang sudah menjadi guru pada saat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ditetapkan tanggal 30 Desember 2005.

Artinya, mekanisme urut kacang bagi guru senior yang didahulukan mengikuti sertifikasi masih menjadi pertimbangan utama. Itu berarti bermakna juga bahwa UKG yang kemarin dilaksanakan hanyalah formalitas. Terlebih nilai UKG tidak diberitahukan kepada peserta sama sekali.

Pada akhirnya terkuaklah bahwa Kemendikbud hanya setengah hati dalam melaksanakan sertifikasi guru, karena kompetensi guru dinomorduakan dibandingkan dengan masa kerja guru. Padahal, masa kerja tidak berbanding lurus dengan kompetensi yang dimiliki. Itulah mengapa, banyak guru muda yang kecewa dengan mekanisme sertifikasi selama ini. Mereka yang muda tidak diberi kesempatan menikmati sertifikasi sebagaimana guru-guru senior. Padahal, di lapangan sering kali guru-guru senior ala kadarnya di dalam mengajar, minim motivasi, inovasi, serta sulit untuk diajak berubah.

Jika pemerintah berniat sekadar memberikan kesejahteraan bagi guru-guru senior yang sudah puluhan tahun mengabdi, semestinya tidak perlu repot-repot membungkusnya dengan program sertifikasi. Toh nyatanya banyak guru bersertifikasi namun memiliki kualitas sangat rendah. Terbukti dari beberapa kali uji kompetensi guru bersertfikasi, kualitas mereka masih sangat rendah. Jika niatnya menyejahterakan guru-guru senior secara instan, pilih saja program Bantuan Langsung Tunai (BLT), sehingga guru-guru yang kompeten namun masih muda masa kerjanya tidak dibuat kecewa karena mengharap pepesan kosong dari UKG yang telah dilaksanakan.

Jika pemerintah serius menyelenggarakan sertifikasi dalam rangka memberi reward bagi mereka yang kompetensinya tinggi serta memberi punishment kepada mereka yang kompetensinya rendah, semestinya UKG secara transparan diumumkan nilainya, kemudian guru yang memiliki nilai UKG tinggi langsung disertifikasi. Adapun guru yang memiliki nilai kompetensi rendah diharuskan mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk dapat memperoleh sertifikat pendidik.

Jika mekanismenya masih mengandalkan urut kacang seperti sekarang, yakinlah pendidikan kita tidak akan mungkin segera menuju perbaikan.

Oleh : Heni Purwono   Sumber gambar : Google.com  Sumber tullisan : Unnes.ac.id

LEAVE A REPLY