IhsanBERBAGAI partai dan calon legislatif dengan gambar-gambar baliho sudah mulai menghiasi jalanan, bendera partai dipasang dimana-mana, kampanye-kampanye terselubung para caleg juga sudah marak dilakukan dalam rangka menggaet minat calon pemilih mendatang [asumsi pribadi]. Mengingat perhelatan akbar yang digelar 5 Tahunan ini sebentar lagi akan bergulir, masing-masing partai unjuk gigi dengan mengusung calon yang mereka unggulkan dalam kompetisi ini bak miss universe yang tebar pesona demi sebuah kemenangan dengan pesonanya itu. Karena memang Sebelum memasuki masa Pemilu Anggota Legislatif, setiap bakal calon legislatif dan partainya akan berjuang habis-habisan menarik simpati dari masyarakat demi memperoleh dukungan dari rakyat sebagai pemilih dan meraup suara sebanyak-banyaknya. Proses ini disebut dengan Kampanye.

Sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh KPU, tanggal 9 April 2014 mendatang akan diadakan Pemilu Caleg untuk periode 2014-2019 kemudian sebagai puncak dari ritual ini adalah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Oleh karena itu, kampanye masih terus akan berlangsung hingga batas waktu larangan berkampanye tiba. Banyak cara dilakukan untuk memperkenalkan masing-masing calon yang menjadi objek pilihan. Salah satunya ialah dengan memanfaatkan Media masa (Pers). Ketika dahulu dalam berkampanye, lebih pada hanya mengandalkan orasi langsung dihadapan para pemilih (red; rakyat) kini cukup dengan bermodalkan media elektronik, pesan singkat pun sampai dipelosok negeri.

Di era modern seperti sekarang ini, sepertinya tak sedikit yang berfikir tidak ingin menggunakan perantara ini atau bahkan tidak ada. Peran media atau pers dalam hal ini cukup dan sangat vital dalam sebuah kampanye. Diakui atau tidak, pers menjadi salah satu wadah, serta kekuatan informasi dan komunikasi yang memiliki kebermanfaatan sangat strategis bagi khalayak umum (public society) dalam Pemilu 2014. Apalagi berbagai sajian berita kontroversial maupun berita pencitraan calon legislatif dan partai politik peserta Pemilihan Umum (Pemilu) Tahun 2014 dapat dilihat dan dinikmati dengan cepat oleh masyarakat umum.

Sebagai pembuka, boleh kiranya penulis sampaikan, bahwa dalam mengantisipasi terjadinya GOLPUT dalam Pemilu 2014 , masyarakat perlu memahami pentingnya berpartisipasi dan memilih calon wakil rakyat dari suatu partai tertentu dengan melihat kinerja dan kapabilitasnya sebagai seorang Calon Legislatif. Apalagi, para calon legislatif ke depannya (jika terpilih) akan masuk ke dalam sistem politik kenegaraan, yang bertugas menjalankan amanah rakyat. Tujuan politik seperti yang digadang-gadang oleh Aristotoles adalah En Dam Omnia, atau The Good Life, Gemah Ripah loh Jinawi. Artinya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Hal ini sangat penting untuk membangun demokrasi yang lebih sehat agar bangsa Indonesia ini di wakili oleh para caleg yang cakap, bersih, peduli , dan kompeten. Oleh karenanya, peranan Pers sebagai media informasi dan komunikasi tentunya merupakan sebuah komponen penting dalam memantau perkembangan Pemilu 2014 yang akan di laksanakan serentak di seluruh Indonesia pada tanggal 9 April 2014 mendatang. Sehingga Pers diharapkan bisa menjadi salah satu pemantau Pemilu yang paling strategis.

Jika menilik Pengertian Pers menurut Pasal 1 Angka (1) Undang – Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menyebutkan bahwa “Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara dan gambar serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia”. Sehingga peranan pers di sini sangat vital dalam memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat mengenai calon-calon wakil rakyat maupun parpol yang akan dipilihnya.

Bagaimana posisi pers dalam Pemilu 2014 ? Posisinya jelas harus sesuai dengan fungsi pers dalam Pasal 3 UU Pers, yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Menjelang pemilu April nanti, pers memegang peran strategis untuk turut serta mensukseskannya. Pertama, media harus menjadi sarana informatif yang sehat dan tidak menyesatkan apalagi memihak salah satu partai atau calon yang berakibat mengebiri partai atau calon yang lain.
Sedikit banyak, pilihan masyarakat terhadap caleg atau calon presiden yang akan dipilihnya nanti juga ditentukan bagaimana informasi tentang track record para kandisasi yang bertarung dalam pemilu, termasuk kemasan-kemasan iklan yang ditampilkan.

Berikan informasi yang berimbang dan tidak memihak, serta porsi iklan politik yang sesuai dengan aturan. Salahsatunya Surat Keputusan KPI Nomor 45 Tahun 2014 tentang Petunjuk Pelaksanaan Terkait Perlindungan Kepentingan Publik, Siaran Jurnalistik, dan Pemilihan Umum. Setiap hari kita melihat tayangan iklan politik yang jelas belum waktunya beredar. Media harus tetap berdiri di atas kaki idelismenya, meskipun butuh profit. Jika tidak, maka penguasaan modal akan menjerumuskan media pada kepentingan bisnis dan terpilihlah pemimpin-pemimpin yang hanya punya modal dan miskin kemampuan apalagi pengabdian.

Kedua, fungsi pers sangat penting untuk  turut serta memberitakan atau mengemas acara-acara yang mencerahkan dan mendidik masyarakat terkait pentingnya pemilu dan bagaimana tata cara pencoblosan dibilik suara. Kolom-kolom media massa atau acara-acara hiburan bertema cerdas memilih yang menyasar pemilih pemula akan sangat membantu untuk mensosialisasikan pemilu 9 April nanti. Pendidikan sadar politik tidak hanya untuk pencoblos, tetapi juga untuk para kontestan partai dan caleg agar bersaing dengan santun, tidak anarkis dan saling mencurangi, serta taat hukum.

Ketiga, Fungsi Menghibur, ialah pers juga memuat hal-hal yang bersifat hiburan untuk mengimbangi berita-berita berat (hard news) dan artikel-artikel yang berbobot. Berbentuk cerita pendek, cerita bersambung, cerita bergambar, teka-teki silang, pojok, dan karikatur.

Keempat, kontrol sosial. Pers sesuai posisinya sebagai pilar demokrasi yang keempat, berperan untuk melakukan kontrol sosial, termasuk jalannya pesta demokrasi. Beritakan semua kecurangan yang terjadi, jangan pilih-pilih. Tidak hanya mengontrol para kandidat yang bertarung, namun penyelenggara pemilu juga tidak boleh lepas dari pengamatan agar tetap menjaga independensinya.

Menurut hemat saya, Ada 3 (Tiga) hal Fungsi Pers dalam Pemilu 2014 ini yakni Pertama, Pers sebagai salah satu Alat Media Pendidikan Politik. Pers diharapkan mampu mendorong masyarakat luas agar berpartisipasi dan memilih dengan cerdas pada Pemilu 2014 mendatang sesuai dengan kinerja dan track record yang bagus. Masyarakat diharapkan juga tidak memilih CALEG tertentu karena tergiur dengan uang yang diberikan dimana biasanya disebut dengan istilah Money Politic. Para Pemilih Pemula juga dengan mudah berpartisipasi dan tidak kebingungan pada pengalaman pertama mereka di Pemilu 2014.

Kedua, PERS sebagai Alat Kontrol Sosial yang konstruktif dan paling efektif pada pengawasan  Pemilu 2014 ini dimana bisa menyajikan informasi dengan cepat berkaitan dengan kinerja semua pihak yang berkepentingan dalam pelaksanaan Pemilu tersebut agar berjalan dengan Lancar, Jujur, Adil dan Transparan yang di selenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan diawasi oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum (BAWASLU).  Peran Strategis yang dimiliki Pers ini harus di maksimalkan untuk kepentingan masyarakat bukan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan politik semata, karena Pers ini merupakan salah satu pilar hidupnya demokrasi pada era keterbukaan informasi sekarang ini.

Ketiga, Pers sebagai Alat Informasi dan Aspirasi Rakyat. Jika diibaratkan Pers adalah perwakilan rakyat, maka Pers harus lebih condong berposisi sebagai alat perwakilan rakyat untuk memantau Pemilu dengan menyajikan berita dan analisis yang sesuai fakta dan objektif. Sehingga masyarakat awam bisa bebas berpendapat dan menilai dengan mudah mana Partai Politik atau calon legislatif yang benar – benar mementingkan aspirasi rakyat, track record seorang calon legislatif dan Partai Politik serta pelanggaran – pelanggaran maupun kasus – kasus yang terjadi yang dialami oleh Partai Politik dan Seorang Calon legislatif menjelang Kampanye Pemilu 2014.

Maka hal ini sangat bergantung pada kinerja dan profesionalisme seorang jurnalis dan suatu lembaga pers dalam menyajikan sebuah informasi untuk masyarakat luas yang terdiri dari berbagai macam latar belakang pendidikan. Serta kepentingan perusahaan pers di mana para jurnalis tersebut bekerja. Banyak kita lihat sekarang, perusahaan pers masih dikuasai oleh berbagai kepentingan politik dari pemilik modal.

Agar Pers bisa tetap on the Track dan sukses dalam mengemban misinya sebagai media informasi dan komunikasi terutama dalam Pemilu 2014 ini. Menurut 2 (dua)  Ahli dari Inggris, Stephen Klaidman dan Tom L. Beauchamp, dalam bukunya berjudul “The Virtous Journalist”, ada 5 ( lima) Prinsip dasar yang harus dipegang oleh Pers dalam mengemban misinya, yakni; Pertama, The Reasonable reader Standard, sajian pers hendaknya memperhatikan atau menurut standar pemikiran pembacanya. Kedua, Completeness, lengkap dan tuntas, sajian yang di sampaikan harus bersifat komprehensif. Ketiga, Understanding, Sajian pers hendaknya memberikan solusi bagi Problem Sosial dan jauh dari hal – hal provokatif dan merugikan masyarakat. Keempat, Objectivity, Objektif atau tidak memihak, maksudnya sajian yang disampaikan harus seimbang. Dan terakhir yang Kelima, Accuracy, Akurat, bahwa sajian yang disampaikan memiliki bobot kekinian. Prinsip kelima ini senada dengan Pasal 6 huruf C Undang – Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers bahwa Pers nasional mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar.

Mampukah media menjalankan fungsinya di atas menjelang sampai pasca pemilu nanti? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Tergantung bagaimana pers memposisikan dirinya. Sulit untuk mengatakan tidak ketika pers mulai bergumul dengan kepentingan bisnis dan profit sebagai orientasi ditengah persaingan media yang ketat saat ini. Belum lagi para pemilik media yang berpolitik, tentu cukup sulit untuk berada diantara independensi dan kepentingan politiknya. Akibatnya Pers yang berada dibawah kendalinya ikut turut serta memainkan kepentingan di atas kepentigan ketika Indonesia Memilih seperti sekarang ini. Namun, publik tentu masih punya harapan bahwa jawabannya pers masih “bisa” menjalankan fungsinya tersebut dengan baik, sehingga masyarakat masih punya punya pilar demokrasi yang dapat dipercaya. (Ihsan/ef.ha)

Ihsan Nugroho (Kadept. Sosial Masyarakat KAMMI Unnes)

LEAVE A REPLY