MITI Klaster Mahasiswa Sosialisasikan Kawasan Rumah Pangan Lestari

MITI Klaster Mahasiswa Sosialisasikan Kawasan Rumah Pangan Lestari

KARANGANYAR, cahUnnes.com – Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Karanganyar bekerjasama dengan Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (MITI) Klaster Mahasiswa selenggarakan sosialisasi pembentukan kawasan rumah pangan lestari (KRPL). Sosialisasi dan pelatihan yang dihadiri puluhan perwakilan kelompok wirausaha tani (KWT) itu dilaksanakan di Aula Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Karanganyar, Senin (21/11).

Perwakilan Dinas Ketahanan Pangan Karanganyar Nusro Hutomo mengajak seluruh peserta yang hadir untuk mulai memanfaatkan sumber hayati selain nasi sebagai makanan pokok. Ia juga mengajak masyarakat Karanganyar untuk melestarikan potensi pangan lokal yang ada di sekitar.

“Ubi-ubian merupakan salah satu sumber daya hayati yang memiliki potensi karbohidrat tinggi seperti nasi. Kita bisa mengkreasi ubi-ubian menjadi produk pangan yang menarik untuk dimakan,” ungkap Nusro dalam sambutannya.

Ketua Pelaksana Kegiatan Go Pangan Lokal MITI Klaster Mahasiswa Regional Solo Intan Mulia Rahayu mengungkapkan ada banyak produk yang telah dihasilkan KWT Karanganyar. Produk tersebut, Lanjut Intan, merupakan hasil olahan ubi-ubian yang ada disekitar tempat tinggal mereka.

“Ada banyak variasi produk, diantaranya keripik singkong, keripik tales, brownis singkong, onde-onde ketela ungun, dan seterusnya. Produk-produk yang mereka hasilkan dari sumber daya hayati pangan lokal,” kata Intan.

Namun, kata Intan, dari berbagai produk itu masih mengalami beberapa kendala di pemasaran dan pengemasan. Untuk itu pihaknya berinisiatif mengadakan pelatihan bagi KWT agar mengetahui teknik pemasaran dan pengemasan yang tepat.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta R. Kunto Adi SP MP menjelaskan tolak ukur pengemasan adalah konsumen. Menurutnya ada perbedaan cara pengemasan antara kalangan menengah ke bawah dengan kalangan menengah ke atas.

“Produk yang dikemas secara elegan kurang begitu laku jika dipasarkan di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Masyarakat akan berasumsi bahwa harga produk tersebut mahal. Begitu juga sebaliknya,” tandas Kunto saat memberikan pelatihan pengemasan produk.

Ia menambahkan tidak semua bahan pengemas cocok untuk berbagai produk. Apalagi jika bahan produknya terbuat dari ubi-ubian atau pangan lokal lainnya, sehingga perlu ada perhatian lebih untuk pengemasannya. “Dalam teknis pengemasan tidak hanya dilihat dari segi menariknya kemasan saja. Namun keamanan kemasan juga sangat perlu diperhatikan,” sambungnya.

Intan berharap kegiatan ini dapat menambah semangat KWT untuk mengolah secara mandiri sumber daya yang ada dan mengurangi budaya ketergantungan pangan terhadap negara lain.

(Aya)

LEAVE A REPLY