Perpustakaan menjadi salah satu gudang ilmu yang bisa menjadi tempat belajar anak-anak Indonesia. Sayangnya, keberadaan perpustakaan, terutama di desa belum dikelola dengan baik sehingga vakum, bahkan tak terawat.

Sebuah komunitas bernama Labasa kemudian berinisiatif mendirikan Yayasan Shakaro Foundation yang salah satu kegiatannya bergerak memberdayakan perpustakaan desa atau taman baca di seluruh pelosok Indonesia. Koordinator Divisi Pengembangan Sosial Labasa, Afni menceritakan, Labasa awalnya merupakan komunitas pemuda yang sering mengadakan kegiatan majelis ilmu.

“Salah satu misinya juga untuk membangkitkan semangat baca di kalangan pemuda,” ujarnya belum lama ini.

Afni memaparkan, dalam pengelolaan rumah baca pihaknya melibatkan pemuda pemudi di desa setempat. Jadi, kata dia, setelah rumah baca dibentuk, harus ada kegiatan yang berjalan, seperti belajar kelompok, lomba kepenulisan, mewarnai, membuat kerajinan tangan, dan sebagainya.

“Saat ini baru ada dua rumah baca yang berjalan, yaitu di Paninggaran dan Cileungsi. Berikutnya kami sedang merencanakan di daerah Pangkalan Jati, Pondok Labu. Ada 10-20 anak yang bergabung dengan rumah baca ini karena tempatnya juga tidak terlalu besar,” terangnya.

Buku-buku yang tersedia di Rumah Baca Labasa beragam, dari mulai buku pelajaran, novel, buku umum, hingga buku Islami. Menurut Afni, buku-buku tersebut didapatkan dari donasi yang kemudian disortir sesuai kebutuhan yang ada di rumah baca.

“Di rumah baca yang ada di Cileungsi kegiatannya rutin setiap Sabtu. Biasanya mereka belajar bahasa asing, buat kerajinan, dan mengerjakan PR. Anak-anak sangat antusias apalagi waktu belajar bahasa Prancis dan Mandarin bersama. Kami juga mengadakan lomba, seperti menulis cerpen dan mewarnai,” ucapnya.

Keberadaan Rumah Baca Labasa, tutur Afni, diharapkan mampu menggerakkan anak-anak untuk membaca buku. Pasalnya, salah satu tantangan yang dialami Labasa adalah mengajak anak-anak karena mereka cenderung lebih suka bermain game di warnet.

“Mungkin karena baru berjalan beberapa bulan belum terlihat dampak secara nyata terhadap peningkatan minat baca. Tapi, sejauh ini anak-anak jadi punya kegiatan rutin setiap pekan di rumah baca. Mereka juga merasa punya tempat yang bisa digunakan untuk belajar, mengerjakan PR, bertanya hal-hal menarik, selain di sekolah,” imbuhnya

Ke depan, Afni berharap rumah baca tak hanya dikunjungi oleh anak-anak, tetapi juga para pemuda dan pemudi desa. Sebab, pihaknya ingin rumah baca yang sudah ada tidak vakum di tengah jalan, sehingga para pemuda itu yang akan menjadi penggerak.

Sumber: Okezone.com

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY