sutiknoDARI tahun ke tahun, minat mahasiswa asing untuk belajar di Universitas Negeri Semarang semakin besar. Mereka selalu antusias untuk belajar segala hal terkait seni dan budaya Indonesia. Hal ini semakin memantapkan visi Unnes menjadi Universitas Konservasi yang bertaraf internasional pada 2020.

Antusiasme itu setidaknya nampak pada kursus budaya yang setiap tahun ditawarkan. Dalam waktu dua minggu, mereka mempelajari karawitan, tari, batik, dan seni rupa, selain juga bahasa Indonesia. Belum lama ini, mereka telah kembali ke negara asal setelah sejenak mengenal budaya kita.

Hal serupa juga dilakukan oleh mahasiswa Program Darmasiswa di Universitas Konservasi ini. Selama setahun, selain belajar pada jam kuliah, mereka mampu membaur dan menciptakan pola interaksi budaya dengan civitas academica di kampus Sekaran.

Memang, Unnes telah menjadikan budaya sebagai salah satu pilar penyangga konservasi. Karena lembaga ini sepenuhnya sadar, budaya bangsa adalah hal mendasar yang harus senantiasa ditanamkan dan dikembangkan, terlebih di kampus sebagai laboratorium keilmuan. Universitas Konservasi konsisten untuk tidak hanya menyuguhkan seni tradisi sebagai wujud budaya dalam berbagai perhelatan, tetapi juga melakukan kajian dan diskusi budaya sebagai upaya telaah kritis terhadap fenomena budaya.

Dan nyatanya, perihal polemik kebudayaan tak pernah surut untuk selalu diperbincangkan. Justru seharusnya, kebudayaan lokal harus mampu meneguhkan identitas di tengah percaturan global, bukan untuk selalu menjadi ironi.

Tak ayal bila kemudian justru banyak warga asing yang lebih paham dan mendalami seni-budaya lokal kita. Tidak mengagetkan bila dalam jagat itu kita menemukan nama Kitsie Emerson, wanita asli Amerika yang mahir memainkan kendang dan rebab, Hiromi Khano (sinden dari Jepang), Christophe Moure (penabuh gamelan dan dalang dari Prancis). Selain mereka tentu masih banyak lagi yang kepincut pada seni tradisi kita.

Kaderisasi

Di bawah payung konservasi budaya, Unnes sebenarnya punya tujuan mendasar: melakukan kaderisasi agar mahasiswa punya kesadaran berbudaya. Hal ini dirasa makin penting ketika budaya diperbincangkan sebagai identitas dan lokalitas yang keberlangsungannya harus senantiasa dirawat. Jangan sampai pula, warga asing justru “mengambil alih” budaya kita dan jauh lebih memahaminya.

Harus diakui, kebudayaan berada dalam posisi marginal karena upaya pemertahanan budaya belum menjadi prioritas masyarakat. Lalu secara tidak langsung kita telah pasrah, upaya pemertahanan budaya lokal ada pada apa yang sering disebut sebagai pelaku budaya, budayawan, atau pegiat budaya, seniman.

Dalam hal ini, dibutuhkan upaya yang sinergis dan bersinambungan. Tidak hanya oleh mereka yang punya jabatan atau peran strategis, akan tetapi juga oleh yang merasa memiliki kepedulian terhadap hidup dan berkembangnya kebudayaan itu sendiri. Atas berbagai realita tersebut, kaderisasi menjadi hal yang mutlak dilakukan. Lebih jauh, harus jelas pola-pola yang dilakukan sebagai upaya mengkader dan menjadikan kegiatan berbudaya sebagai sebuah prioritas.

Salah satu wujud nyata telah ditunjukkan oleh para pegiat budaya di Unnes. Mereka dengan konsisten menggelar sarasehan budaya Jawa Selasa Legen, yang hingga bulan Desember 2013 telah 48 kali diselenggarakan. Itu artinya, sarasehan ini telah digelar 4 tahun. Ini sebagai usaha untuk mendekatkan kebudayaan kepada kader muda intelektual kampus. Beberapa mahasiswa asing di kampus konservasi nampak tak pernah absen mengikuti Selasa Legen.

Akhir tahun 2013, Pakumpulan Paguyuban Karawitan Jawa-Indonesia (Pakarjawi) bersama Unnes dipercaya oleh pemerintah melalui Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kemdikbud untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan kebudayaan. Dan, alhamdulillah, kegiatan-kegiatan seperti lomba macapat, cipta gurit, tari klasik, dalang, dan karawitan―yang seluruhnya menjaring peserta usia remaja dari seluruh Jawa Tengah―berjalan dengan baik. Upaya ini sejalan pula dengan Unnes yang segera merealisasikan Kampung Budaya sebagai laboratorium kebudayaan Indonesia.

Semoga Pakarjawi dan Unnes mampu memberi sumbangsih pada lestari dan berkembangnya seni dan budaya bangsa untuk meneguhkan identitas di tengah realitas yang makin mengglobal. Selain itu sebagai upaya menanamkan benih kecintaan dan rasa handarbeni terhadap budaya tradisional yang penuh nilai itu. Jangan sampai kelak anak-cucu kita malah mempelajari budaya justru dari mereka yang lebih getol mendalaminya. Ketekunan mahasiswa asing seolah mengingatkan kita agar senantiasa merawat budaya sebagai sebuah pemikiran besar yang telah kita miliki.

Sutikno MSi, Kepala Biro Administrasi Perencanaan dan Keuangan (BAPK) Unnes dan Ketua Umum Pakumpulan Paguyuban Karawitan Jawa-Indonesia (Pakarjawi)

Sumber : Unnes.ac.id

LEAVE A REPLY