cahUnnes.com – Anis Susanti dan dua temannya sesama mahasiswi Universitas Negeri Semarang (Unnes) menciptakan boneka jari berbasis edukasi. Mainan anak tersebut diberi nama Edubori. Seperti apa?

Edubori adalah nama dari produk boneka jari warna-warni imut dan lucu yang terbuat dari kain flanel. Kreasi boneka itu diciptakan oleh Anis Susanti bersama dua temannya. Romadhona Chusna Tsani (Dhona) dan Sulistiyani.

Menurut Mahasiswi Fakultas Ekonomi Unnes ini, boneka jari merupakan media bercerita kepada anak yang bisa digunakan sebagai stimulus perkembangan otak anak pada usia dini, 0-6 tahun. Usia tersebut, kata dia, merupakan masa terbaik bagi perkembangan anak (golden age).

Anis menceritakan, ide membuat boneka Edubori berawal saat dirinya melihat keponakannya yang berumur 2 tahun sedang bermain. Saat itu, ia melihat mainan yang dimiliki keponakannya kurang bisa mendukung kreativitas. Saat itulah timbul ide untuk membuat mainan anak yang lebih berguna.

“Saya lihat mainannya kok plastik semua, dan juga kurang menunjang kreativitas anak. Nah, dari situlah ide awal Edubori,” beber gadis kelahiran Banjarnegara, 9 Oktober 1993 ini.

Anis Lantas mengajak empat rekannya, Romadhona Chusna Tsani, Azhani Nur Fauzhiah, Imaniya Safitri dan Rini Meliyana untuk mengembangkan idenya tersebut. Mahasiswi yang kos di Jalan Sekaran itu kemudian menyusun proposal pengajuan modal usaha di program kewirausahaan mahasiswa (PKM) di kampusnya.

Diluar dugaan ternyata ide wirausaha sekaligus edukasi yang digagasnya lolos seleksi. Kelimanya mendapat suntikan modal Rp 5 juta untuk mengembangkan ide membuat Edubori tersebut.

Namun baru berjalan beberapa tahun, tiga rekan Anis mengundurkan diri karena sibuk dengan organisasi dan urusan kuliah. Mereka adalah Azhani Nur Fauzhiah, Imaniya Safitri, dan Rini Meliyana. Praktis, tinggal Anis dan Dhona yang tetap melanjutkan usaha tersebut. Meski demikian, Anis dan Dhona tak putus asa. Keduanya lantas mengajak Sulistiyani, teman satu kos Anis yang pandai dalam membuat kerajinan tangan untuk bergabung.

“Kami saling berbagi tugas. Saya mengurus manajemen, Dhona bagian pemasaran, sedangkan Sulistiyani membantu dibagian produksi,” jelas putri bungsu dari tiga bersaudara pasangan Mulyati dan Ali Sodirun ini.

Kenapa dinamakan Edubori? Anis menjelaskan, nama tersebut merupakan singkatan dari Edukasi Boneka Jari. Hal itu sesuai dengan penggunaan boneka jari tersebut, yakni untuk mendidik, khususnya anak – anak usia dini.

Hingga kini Anis bersama Dhona dan Sulistiyani terus berinovasi terhadap produk yang mereka buat. Setidaknya sudah lima tema boneka Edubori yang dibuat. Yakni tema profesi, hewan, sayur, buah dan keluarga.

“Untuk saat ini tema yang paling diminati adalah profesi. Mungkin customer suka, karena cerita bisa lebih dikembangkan dengan tema ini,” ujarnya.

Ditanya proses pembuatan boneka jari tersebut, Anis menjelaskan pertama dimulai dari membeli bahan baku yakni kain flanel, selanjutnya dipotong sesuai tema boneka, lalu dijahit.

“Selain menggunakan kain flanel, saya juga memanfaatkan kain perca atau kain sisa jahitan yang selama ini tidak terpakai,” katanya.

Sedangkan untuk desain boneka, Anis mengaku menyesuaikan dengan kebutuhan anak usia dini 0-6 tahun. Misalnya, untuk tema profesi, dikatakan dalam usia 5-6 tahun biasanya seorang anak sudah mulai mengerti tentang cita – cita. Dari situlah inspirasi desain boneka didapatkan.

Diakui, pembuatan boneka jari membutuhkan waktu yang tidak singkat, “Karena handmade, sehingga membutuhkan waktu yang lama. Sehari satu orang maksimal bikin satu pack,” jelasnya.

Anis mengatakan, untuk menggunakan boneka jari, sama seperti boneka jari biasanya, yakni tinggal dipasang pada jari – jari lalu digunakan bercerita. Isinya disesuaikan dengan anak, sehingga sesuai dengan perkembangan dan usia anak.

Hingga kini, Anis dan dua temannya hanya memproduksi berdasarkan pesanan. Ia mempromosikannya lewat blog dan situs jejaring sosial. Setidaknya hingga kini sudah diproduksi 500 pack. Ia mematok harga Rp 25 ribu per pack berisi lima boneka jari.

Pemilik Anis Susanti’s blog dan akun twitter @nice_anisy ini menambahkan, peluang bisnis boneka jari ini cukup menjanjikan. Sasarannya lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) yang saat ini semakin marak. Apalagi bisnis kreatif di lembaga ini masih relatif sedikit.

“Sejumlah pendidikan anak usia dini (PAUD) yang pernah membeli produk saya, diantaranya TK Hidayatul Aulad Prambanan Kidul, Kaliwungu Kudus dan KB-TK Islam Al Azhar 22 Semarang,” ujarnya.

Anis menilai kreativitas dalam membuat mainan edukatif untuk anak – anak PAUD di Indonesia masih rendah. Hal inilah yang membuat Anis dan dua orang temannya tetap bertahan melanjutkan usaha Edubori.

“Selain bisnis kita juga melihat sisi sosialnya. Alhamdulillah, kami bsia membantu guru – guru PAUD untuk lebih mudah dalam mengajar,” Kata Dhona.

Diakui Anis setahun lebih menekuni usaha pembuatan boneka jari ini, Anis dan dua temannya bisa mendapatkan hasil yang tidak kecil. Bahkan, hasilnya selain bisa untuk menambah uang saku, sebagian juga ditabung.

Ke depan, Anis bersama dua rekannya akan terus mengembangkan bisnis tersebut, “Kami punya rencana membuat rumah kreasi Edubori,” ujarnya.

Namun, dalam waktu dekat ini, Ia hanya ingin menambahkan buku cerita pada setiap pack produk boneka jarinya. “Ada customer yang pengin banget diberi buku cerita. Jadinya ya kita kembangkan kesitu dulu,” jelas gadis yang hobi mengikuti seminar entrepreneurship ini.

Sumber : Harian Jawa Pos Radar Semarang (Jumat, 28 Februari 2014)

LEAVE A REPLY