SEMARANG, cahUnnes.com – Puluhan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Diponegoro (Undip) lakukan aksi demonstrasi di Gedung DPRD Jateng. Aksi itu dilakukan terkait bencana kabut asap yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan.

“Indeks standar pencemaran udara di beberapa kota seperti Pekanbaru, Batam, Jambi, Palembang, Pontianak, palangkaraya sudah mencapai level berbahaya. Yaitu diatas 300,” ungkap Koordinator aksi David, Senin (5/10/2015).

Menurutnya, kabut asap sangat pekat hampir sepanjang hari membuat aktivitas masyarakat terganggu. Namun pada tahun ini mencapai kondisi terparah bila dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Akibat kabut asap ini, sudah banyak masyarakat yang terkena inspeksi saluran penapasan akut (INSPA). Bahkan sudah ada korban meninggal dunia di Pekanbaru dan Jambi.

“Selain itu aktivitas masyarakat terganggu, seperti jarak pandang yang sangat pendek, sekolah-sekolah libur lebih dari sebulan. Bahkan aktivitas bandara lumpuh. Untuk mengungsikan warga juga tidak mungkin, karena dampak yang sangat luas yang mencakup beberapa provinsi,”paparnya.

Kabut asap ini jelas adalah akibat kebakaran dan pembakaran hutan di Sumatra dan Jawa. Selama musim kemarau banyak korporasi dan masyarakat melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar. Ironisnya, sampai sekarang belum ada langkah kongret dari pemerintah. “Presiden Jokowi sudah blusukan ke beberapa kota, namun belum memberikan solusi yang ampuh bagi kabut asap,”paparnya.

Oleh karena itu, mahasiswa mendesak pemerintah melakukan revisi UU No.32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, terutama terkait sanksi pidana terhadap pelaku kerusakan lingkungan.

IBALH

LEAVE A REPLY