Galih-Suci-Pratama-1BEBERAPA waktu lalu kita disuguhi berbagai atribut dan tulisan provokatif dalam kampanye untuk pemilihan presiden-wakil presiden mahasiswa, ketua BEM fakultas, ketua hima, bahkan pemilihan legislatif seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa. Kata-kata mereka sungguh merdu bak nyanyian burung yang sedang pentas. Sungguh menarik dan menunjukkan proses demokrasi di Universitas Negeri Semarang yang begitu sehat dan harmonis.

Di balik hiruk pikuk pesta demokrasi yang meriah, mahasiswa belajar akan arti kejujuran, sportivitas, dan perjuangan. Mereka belajar pengelolaan wacana dan gagasan serta melatih manajemen diri. Hal ini senada dengan pelatihan soft skill secara nyata oleh mahasiswa. Sebab, kita perlu melihat bahwa dunia kampus adalah laboratorium kehidupan yang selayaknya menjadi sarana belajar dan berkontribusi sebelum masuk dalam dunia kemasyarakatan.

Sejatinya aktivis mahasiswa bukanlah mereka yang hanya berada dalam ranah politik mahasiswa, melainkan juga aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa. Ranah ini mengajak mahasiswa mengembangkan bakat dan minatnya dalam pengembangan kepribadian. Baik seni, olahraga, penelitian, sosial atau religiusitas. Ranah UKM juga tak kalah dalam membelajarkan akan berbagai makna kehidupan.

leh sebab itu, perlu ada pembeda bagi mahasiswa yang telah aktif dalam mengembangkan dirinya melalui aktivitas kemahasiswaan dan yang tidak. Ini penting, mengingat out put yang diharapkan adalah mahasiswa yang tidak hanya andal dalam bidang ilmu pengetahuan dari perkuliahan kampus, namun juga mahasiswa yang peka akan kondisi lingkungannya.

Selayaknya lulusan universitas mempunyai standar yang cukup sebelum berkecimpung dalam dunia masyarakat. Terutama bagi calon guru, terdapat empat kompetensi kependidikan. Pertama, kompetensi pedagogik, yaitu kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan, dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasi berbagai potensi yang dimiliki.

Kedua, kompetensi professional, yaitu kompetensi terkait penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional. Kedua kompetensi ini akan didapatkan mahasiswa yang utama dari perkuliahan.

Ketiga, kompetensi sosial, yaitu kemampuan berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Keempat, kompetensi kepribadian, yaitu kemampuan yang berkaitan dengan performa pribadi pendidik, seperti pribadi mantap, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian akan didapatkan mahasiswa ketika berinteraksi dengan dunia luar, menghadapi tantangan kehidupan, dan manajemen emosi yang baik. Maka, menjadi sesuatu yang penting ketika mahasiswa dapat menjadi seorang yang aktif di dalam kampus.

Rekam Jejak
Oleh sebab itu, perlu adanya kredit poin sebelum mahasiswa dinyatakan lulus. Kredit poin didapatkan dari rekam jejak mahasiswa selama dalam kampus. Baik kegiatan akademik, penelitian, organisasi, keterampilan, maupun yang lain. Ini penting, mengingat mahasiswa harus mempunyai kompetensi sesuai dengan out put yang diharapkan universitas. Semua kompetensi akan didapatkan dari rekam jejak pengalaman selama menjadi mahasiswa.

Dampak positif kredit poin, seperti akan menambah kesemangatan dalam menggerakkan roda kemahasiswaan kampus. Stok penggerak lembaga kemahasiswaan menjadi tidak habis, menambah inovasi dan kreativitas kegiatan lembaga kemahasiswaan, bahkan akan terjadi proses seleksi yang baik dalam memilih pengurus lembaga kemahasiswaan. Di sisi lain, mahasiswa sejak dini akan berpikir manajemen diri di kampus serta mempunyai paradigma bahwa kuliah tidaklah hanya kantin, kampus, kos. Namun, peluang aktivitas kemahasiswaan sangat terbuka lebar. Mereka sejak dini mempersiapkan lembaga apa yang akan ditekuni, memotret model mahasiswa ideal yang diinginkan atau mahasiswa mulai merencanakan target perjalanan kemahasiswaannya.

Memang, kredit poin akan sedikit memaksa mahasiswa untuk mengembangkan dirinya dalam aktivitas kemahasiswaan. Namun, memaksa yang positif. Aktif di kegiatan kampus akan membawa setiap mahasiswa pada out put yang lebih baik.

Gagasan ini merupakan salah satu sumbang saran dalam peningkatan kompetensi lulusan mahasiswa. Semoga menambah referensi dalam pengembangan sumber daya mahasiswa.

–Galih Suci Pratama SPd, mahasiswa Pendidikan Dasar Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang dan Pengurus Harian Ikatan Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Seluruh Indonesia

Sumber : Unnes.ac.id

LEAVE A REPLY