13578914_1288309951180900_14685294_n

Akhir-akhir ini, banyak kekerasan yang tengah diberitakan di media. Baik media cetak atau pun elektronik. Kejahatannya pun beragam seperti penganiayaan, perusakan, pencabulan, kekerasan, pelecehan atau bahkan pembunuhan. Data KPAI menunjukkan dalam kurun waktu 2010-2014 terjadi sebanyak 21.869.797 kasus pelanggaran terhadap anak di Indonesia. Dari berbagai kasus yang telah terjadi, ternyata banyak disebabkan oleh pola pendidikan keluarga terhadap anak yang kurang terarah di waktu kecil.

Pola pendidikan keluarga terhadap anak menjadi kunci dalam pembinaan karakter usia dini. Ketika saat kecil anak sudah diperlihatkan kekerasan melalui berita, melihat langsung, atau bahkan permainan. Maka, kelak anak mempunyai kemungkinan lebih besar untuk melakukan kekerasan. Sebaliknya, ketika pola pendidikan keluarga terhadap anak banyak mendapatkan kasih sayang dan diarahkan secara baik melalui tauladan, tontonan TV dan permainan anak yang baik maka anak akan menjadi manusia yang bijak dan penuh kepekaan sosial ketika dewasa. Oleh sebab itu, selayaknya orang tua lebih memfilterisasi terkait apa yang dilihat, didengar dan dilakukan oleh anak karena anak adalah peniru yang baik.

Lebih lagi, teori piaget pun mengatakan bahwa anak SD termasuk Opresaional konkret yang batasan umurnya 7-11 tahun. Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan ditandai adanya reversible dan kekekalan. Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret. Salah satu pembelajaran secara konkret adalah melalui permainan berlagu anak.

Permainan anak mempunyai beberapa fungsi seperti mengaktifkan gerak, menanamkan sugesti dan memberikan kesenangan. Salah satu ciri dari permaianan anak adalah lagu. Melalui lagu terkadang anak dikenalkan dengan pembinaan karakter. Namun sayangnya tidak semua lagu yang dikonsumsi anak mengandung makna yang baik untuk perkembangannya.

Lagu seakan menjadi cara belajar yang efektif. Bahkan, terkadang lagu dapat menjadi doktrin yang sangat cepat mengenai sesuatu hal. Oleh sebab itu, keberadaan lagu bagi anak harus sangat difilterisasi melalui peran keluarga. Jangan sampai lagu anak malah mengandung nilai-nilai kekerasan, penganiayaan, pembunuhan atau perilaku yang kurang sesuai dengan zamannya. Atau bahkan anak-anak mengkonsumsi lagu-lagu dewasa yang tidak sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Ironis lagu anak

Ironisnya lagu anak-anak saat ini masih belum sesuai dengan perkembangan anak. Bahkan, mendoktrin hal yang tidak baik. Salah satunya lagu sikancil. Lirik yang terdapat di dalam lagu tersebut adalah kancil nakal dan jangan diberi ampun. Doktrin tersebut seakan menjadi pembenaran tentang kekerasan, penganiayan dan main hakim sendiri. Hal ini pun yang mendasari banyak main hakim sendiri di masyarakat. Yang terakhir kasusnya kancil di lamongan.

Selain lagu si kancil juga terdapat lagu nina bobo. Dalam lagu tersebut anak anak ditakut-takuti. Seakan, jika tidak bobo digigit nyamuk. Secara tidak sadar lagu tersebut telah mendoktrin anak menjadi anak yang penakut. Padahal, doktrin tersebut menjadi berbahaya manakala terjadi dalam masa perkembanagan anak.

Lebih tragis, ketika anak-anak mengkonsumsi lagu orang dewasa yang mempertontonkan kemolekan tubuh, percintaan, dan perselingkuhan. Lagu yang belum tepat jika diperdengarkan kepada anak. Dampaknya, anak akan meniru hal tesebut. Karena anak adalah peniru yang terbaik. Namun, banyak keluarga yang tanpa sadar telah mengajari lagu orang dewasa. Ironis. Maka, tidak heran jika saat ini anak lebih familier lagu percintaan dibanding dengan yang lain.

Konsumsi lagu orang dewasa oleh anak selayaknya tidak boleh menjadi budaya. Bahkan, dianggap lumrah untuk dikonsumsi anak-anak. Sehingga orang tua/masyarakat menganggap biasa saja. Karena dampak yang akan ditimbukan begitu buruk dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Faktor

Ada beberapa faktor yang melatar belakangi hal tersebut. Pertama, pemahaman keluarga sebagai bagian terkecil masyarakat akan pengaruh lagu terhadap pola pikir dan perkembangan anak masih kurang. Hal tersebut terlihat dari tontonan televisi di rumah atau bahkan masih saja terjadi melihat tontonan yang menonjolkan kemolekan tubuh yang secara sengaja, namun orang tua membawa sang anak untuk ikut menonton.

Kedua, produktivitas lagu anak menurun. Produktivitas lagu anak selayaknya perlu untuk dinaikan kembali. Terkadang produktivitas lagu anak lebih mementingkan pasar sehingga banyak lagu anak yang tidak terkenal karena kurang diminati oleh masyarakat. Dampaknya para produserpun mungkin mengalami kerugian.

Ketiga, keluarga merupakan filter lagu yang utama. Sehingga pembinaan terhadap keluarga menjadi faktor yang penting. Bahkan keluarga merupakan contoh tauladan anak yang pertama dalam bersikap. Jika tidak memberikan contoh yang baik terhadap anak maka dampaknya akan fatal.

Keempat, sekolah pun mempunyai peranan penting dalam merefleksi lagu anak. Karena sekolah lah tempat pengembangaan karakter. Pengenalan lagu yang baik selayaknya menjadi budaya yang terjadi di sekolah.

Oleh sebab itu perlu ada perhatian lebih bagi kalangan seniman tanah air, pemerintah, masyarakat untuk menangani permasalahan ini. Jika tidak harapan akan generasi yang emas 2045 pun akan menjadi buyar.

Oleh: Galih Suci Pratama, S.Pd., Guru CPNS SD N Wonosari 03 UPTD Kec. Ngaliyan Kota Semarang

LEAVE A REPLY