Apa kabar bapak ibu guru nan keren serta mulia? Sehat kan? Apa kabar juga siswa-siswinya? Semakin kritis, aktif, dan nggak fokus pas kegiatan belajar mengajar ya? Hehe…. wajar sih anak-anak, anak SMA anak SMP apalagi anak-anak SD sukanya emang pada heboh dikelas, mereka diem juga paling pas ulangan, itu juga paling lama 45 menit dalam keadaan terkondisikan, dalam keadaan pembelajaran biasa jangan harap menemui murid-murid dengan duduk manis dan keadaan kelas hening kemudian kita (guru) bisa dengan leluasa tanpa memaksakan volume suara paling tinggi bisa menjelaskan materi. Lalu bagaimana cara pendidik (guru, dalam hal ini) bisa menguasai kelas? Dengan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif dan semenyenangkan apapunkah model pembelajaran yang anda (guru) tawarkan kepada kelas anda untuk membuat mereka fokus kepada apa yang anda utarakan?

Apakah anda pernah mendengar kata HYPNOTEACHING? Yups, hypnoteaching, terdiri dari kata hypno dan teaching. Hypno berasal dari kata hypnosis yang berarti keadaan dimana seseorang berada dalam kondisi trans, atau mudah menerima sugesti dan teaching merupakan kata dari bahasa inggris, yaitu  teach yang berarti mengajar. Dengan begitu, hypnoteaching merupakan pembelajaran atau cara mengajar dengan menggunakan unsur hypnosis, yaitu saat dimana seseorang bisa menerima sugesti dengan mudah.
Sebentar, jangan bayangkan hypnosis dalam hypnoteaching ini siswa-siswi dihipnotis sampai tak sadarkan diri seperti yang ditayangkan pada beberapa stasiun televisi, namun hypnosis dalam pembelajaran hanya diarahkan untuk menciptakan kondisi kundusif dalam proses pembelajaran. Jadi, pada saat pendidik menggunakan metode hypnoteaching dalam pembelajaran, siswa berada dalam keadaan sadar seutuhnya dengan mata terbuka, mereka hanya dibuat rileks pikirannya sehingga bisa fokus pada yang disampaiakan pendidik. Tujuan utama hypnoteaching adalah untuk membangunkan motivasi dalam diri setiap siswa.

Berikut ini cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mempraktikkan hypnoteaching dalam pembelajaran:
1. Kondisikan siswa-siswi agar tenang dan tidak mengeluarkan suara apapun
2. Mintalah siswa-siswi anda untuk rileks dengan memejamkan mata kemudian dituntun untuk melakukan pernafasan teratur, dengan perintah tarik nafas panjang lewat hidung kemudian hembuskan lewat mulut, kegiatan tersebut dilakukan berulang sampai pernafasan teratur dan tubuh terasa rileks.
3. Berikan sugesti kepada siswa untuk fokus hanya pada apa yang dikatakan guru
4. Lalu, berikan sugesti positif, seperti fokus pada pikiran, peka terhadap pendengaran, fresh otak dan pikiran, serta kenyamanan pada seluruh badan.
5. Apabila semua siswa dikelas sudah terkondisikan guru bisa memulai untuk  melakukan brainstorming kepada siswa-siswinya.
6. Jika dirasa sudah cukup siswa bisa diminta untuk membuka mata secara perlahan dan kembali dalam keadaan bugar.

Begitu tadi cara praktik sederhana dari penerapan hypnoteaching dalam pembelajaran dikelas. Teknik hypnoteaching tersebut akan lebih efektif apabila dilakukan dalam satu kelas yang jumlah siswanya tidak lebih dari 20 orang siswa agar guru bisa lebih mengamati secara maksimal keadaan siswa-siswinya dan teknik ini juga lebih pas jika digunakan pada pelajar tingkat pertama atau tingkat menengah yang sudah lebih mudah mengerti untuk berkonsentrasi, sedangkan untuk sekolah dasar pada kelas tinggi kelas 5 dan 6 bisa dicoba namun di kelas selain itu saya anjurkan jangan dulu karena bisa jadi bukannya anda yang akan menghypnoteaching mereka tapi anda akan terhypnoteaching dengan kelakuan mereka, hehe…

Perlu diketahui hypnoteaching bukanlah teknik yang dapat digunakan untuk menjadikan siswa-siswi pandai dalam sekali praktik hypnoteaching. Hypnoteaching hanyalah teknik yang membantu memudahkan dalam kegiatan pembelajaran dengan memberikan sugesti positif berupa motivasi dan merilekskan pikiran siswa agar pengetahuan yang didapat bisa dipahami dengan baik.

Nah, itu tadi sedikit tentang Hypnoteaching yang bisa digunakan sebagai alternatif untuk mengkondisikan kelas agar tujuan pembelajaran tercapai, inovasi baru yang bisa dilakukan dengan modal sederhana berupa kemampuan berbicara yang saya yakin setiap guru mampu.
Jadi, kalau ada cara yang lebih simpel dan efektif untuk itu, kenapa tidak dicoba? Why not?

Maya Rusitasari, Aktifis BEM FIP Unnes

LEAVE A REPLY