NOMOPHOBIA alias no mobile phone phobia adalah jenis fobia yang ditandai ketakutan berlebihan ketika tidak bisa menggunakan telepon seluler. Lima mahasiswa S-1 Universitas Airlangga (Unair) melakukan penelitian mengenai fenomena nomophobia pada mahasiswa Unair.

Penelitian bertajuk Gangguan Kesehatan Akibat Nomophobia pada Mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya tersebut dilakukan Adelia Ratri Mahenda, Isnaini Fajariah, Meutia Ikawidjaja, Muhammad Sudrajad, dan Nidya Eka Putri tahun lalu.

Penelitian yang dibuat dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKMP) tersebut mendapat dana Rp 9 juta dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti). Walaupun tidak lolos dalam babak Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas), hasil yang didapat cukup menarik.

Koordinator kelompok, Adelia Ratri Mahenda, memaparkan, dari populasi total 29.240 mahasiswa Unair, tim peneliti mengambil sampel 380 responden dari 11 fakultas. Mereka diminta mengisi kuesioner berisi enam variabel pertanyaan seputar kehidupan dan kegiatan bersama ponsel mereka. Variabel itu terdiri atas kepemilikan handphone (HP), pola penggunaan HP, akses internet dalam HP, pola penguasaan terhadap HP, kebutuhan akan daya listrik, serta gangguan kesehatan.

’’Setelah itu, tiap variabel di-breakdown menjadi beberapa pertanyaan. Misalnya, variabel pola penggunaan HP. Pertanyaannya berisi tentang jangka waktu penggunaan HP dan frekuensinya,’’ ucap Adelia yang merupakan mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat angkatan 2011 tersebut.

Setiap jawaban responden mempunyai poin yang akan dijumlah. Jumlah tersebut dicocokkan dengan lima kategori nomophobia. Yakni, seseorang tergolong cenderung nomophobia sangat berat, cenderung nomophobia berat, cenderung nomophobia sedang, cenderung nomophobia ringan, dan tidak punya kecenderungan nomophobia. ’’Jadi, semakin tinggi skor, dia semakin cenderung nomophobia,’’ jelas mahasiswi asal Kediri tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan, 34 responden tergolong cenderungnomophobia sangat berat, 92 cenderung nomophobia berat, 148 cenderungnomophobia sedang, 88 cenderung nomophobia ringan, dan sisanya 17 responden tidak mempunyai kecenderungan nomophobia.

Rumus variabel dan skor penelitian didapat dari penelitian yang sama di India. Menurut Adel, sangat sulit mencari referensi penelitian mengenainomophobia. ’’Kami sulit mendapat referensi. Dari luar negeri saja jarang apalagi yang dalam negeri. Karena itu, begitu tahu ada penelitian seperti ini di India, kami adopsi variabelnya,’’ ucapnya.

Adel bersama tim sempat heran. Fenomena teknologi gadget yang canggih dan menjamurnya media sosial lebih dulu melanda negara-negara maju di Amerika Serikat dan Eropa. Terlintas di benak Adel, mengapa di sana belum banyak yang melakukan penelitian tentang nomophobia? ’’Kami menerka saja, mungkin di negara maju peningkatan teknologi tidak berbanding lurus dengan penggunaan gadget yang over,’’ ucap mahasiswi kelahiran 21 Maret 1993 itu.

Sebagai salah satu penikmat gadget, Adel merasa juga mengalami kecenderungan nomophobia. Bahkan, setelah mengetes diri sendiri dengan kuesioner penelitian, dia tergolong cenderung nomophobia sangat berat. ’’Saya sudah menyangka, awal ide penelitian juga terinspirasi kebiasaan sendiri,’’ ucapnya lantas tertawa.

Adel bercerita, kali pertama dirinya punya HP bagus saat SMA, yaitu Nokia C3 yang awet hingga sekarang. ’’Dulu Nokia C3 itu tipe yang paling keren,’’ paparnya.

Selain menelepon dan SMS, HP tipe tersebut bisa diinstal fitur chatting yang ketika itu booming, yaitu Mxit. Fitur tersebut mempertemukan Adel dengan teman-teman baru dari AS dan Eropa.

Perbedaan jam antara Indonesia dan negara-negara tersebut bukan penghalang bagi Adel untuk berkomunikasi. Biasanya, dia chatting mulai pukul 21.00 dan bisa berakhir hingga pukul 02.00.

Kebiasaan tersebut, lanjut dia, dilakukan secara sembunyi-sembunyi saat dirinya di rumah. Sebab, orang tuanya tidak suka dia bermain gadget hingga dini hari. Barulah saat mulai kuliah, Adel yang indekos di Surabaya bisa bebas bergadget ria. ’’Jadi, sejak kuliah, kebiasaan saya semakin tidak terkontrol,’’ ungkapnya.

Apalagi, sejak kuliah, Adel mulai mengenal gadget berbasis Android. Semakin banyak fitur aplikasi chatting yang ditawarkan. Lihat saja di HP-nya kini. Hampir semua fitur chatting tersedia. Mulai WhatsApp, BBM,Facebook Messenger, Instagram, dan Line. Belum lagi fitur game serta e-mail.

Sampai saat ini, dia mempunyai dua ponsel. Setiap pergi ke mana pun, Adel akan membawa ponsel itu ditambah dua powerbank serta charger ponsel beserta adaptornya. Adel menyatakan, sebenarnya dirinya berusaha lepas dari ketergantungan terhadap ponsel.

Namun, tidak dimungkiri, tuntutan berkomunikasi zaman sekarang berkaitan erat dengan fitur chatting. Misalnya, di angkatan kuliahnya. Untuk melancarkan koordinasi, dibentuklah grup di WhatsApp. ’’Kalau tidak mengikuti pembicaraan dalam grup itu, bisa-bisa ketinggalan berita mengenai tugas kuliah. Kalau SMS, malah dianggap ketinggalan zaman,’’ papar Adel.

Jadi, dia merasa serbasalah. Di sisi lain, dia ingin mengurangi ketergantungan pada ponsel. Namun, ada tuntutan dari lingkungan untuk selalu harus mengecek ponsel. ’’Memang, saya ingin mengurangi ketergantungan pada ponsel. Tapi, saya juga mengakui nggak bisa hidup tanpa gadget ini. Saya bisa langsung kehilangan konsentrasi begitu nggakpegang HP,’’ tegasnya.

Hal tersebut juga dirasakan mahasiswi Magister Manajemen Universitas Airlangga Dyah Wahyu Utami, 27. Perempuan yang pernah menjadi finalis Ning Surabaya dan Putri Indonesia Jawa Timur itu merasa tidak bisa hidup tanpa tiga gadgetnya. Yaitu, smartphone, HP biasa, dan satu iPad. ’’Pernah satu smartphone dan HP saya tertinggal seharian. Saya resah sekali,’’ ucap perempuan yang hobi membaca tersebut.

Rasa cemas tersebut, menurut dia, sangat wajar. Sebab, komunikasi soal pekerjaan selama ini dilakukan lewat smartphone itu. Apalagi profesinya di bidang hospitality mewajibkan Dyah tetap merespons pekerjaan selagi libur. Dyah adalah public relation manager di salah satu hotel berbintang empat di Surabaya. ’’Sedikit-sedikit mengecek HP. Saya harus pastikan tamu hotel tidak komplain,’’ tegasnya.

Sebagai PR manager, Dyah juga mengelola akun berbagai media sosial hotelnya. Setiap hari dia mesti update. Misalnya, untuk Instagram, dalam sehari Dyah bisa login tiga akun berbeda di Instagram. Yaitu, akun untuk hotel, akun dirinya sendiri, dan akun untuk online shop.

Jadi, gara-gara sering berbelanja lewat online shop, Dyah kini juga menjadireseller dan berjualan baju lewat online. ’’Saya harus menjawab chattingkonsumen yang ingin membeli produk saya. Jadi, akunnya saya login-logoutsetiap waktu,’’ ungkapnya.

Dyah juga tidak ingin tertinggal untuk eksis. Walaupun tidak maniak, dia suka melihat timeline Path dan Instagram. Bahkan, bila sedang menganggur, dia suka memelototi timeline akun haters artis-artis yang sedang hit. ’’Lucu lihat komen para netizen (pengguna internet). Saya bisa ketawa-ketawa sendiri,’’ imbuhnya.

Dyah tidak bisa menyebutkan secara detail berapa jam dirinya berinteraksi dengan gadgetnya. Yang jelas, mulai bangun tidur hingga tidur lagi, tiga gadget tersebut selalu bersamanya. Saat ke toilet pun, dia sering menggunakan waktu dengan bermain smartphone.

Hingga menjelang tidur, Dyah juga masih membuka gadget. Bisa dipastikan, semalam itu Dyah tertidur bersanding tiga gadget tersebut. Terganggukah dengan kondisi itu? ’’Nggak juga. Saya menikmatinya kok,’’ tegasnya.

Sumber : Jawa Pos

LEAVE A REPLY