cahUnnes.com – Prof Ari Tri Soegito SH MM Mantan Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), sekaligus profesor Pendidikan Pancasila Fakultas Ilmu Sosial Unnes bertandang ke SMA 3 Semarang, Jumat (20/12) di ruang media SMA 3. Ia turun gunung dalam program professor go to school yang telah dicanangkan Unnes sejak november lalu.

Singkat, jelas dan mengena, ia bicara implementasi kurikulum berbasis karakter melalui pembelajaran terpadu. Menurutnya, model pembelajaran terpadu akan efektif apabila disampaikan secara holistik (menyenangkan), bermakna dan otentik. “Seorang guru menurut ia, harus mencintai muridnya dan bersenyumlah, karena sepandai-pandainya guru, kalau tidak menyayangi, tidak memberi perhatian terhadap muridnya, maka tidak akan menghasilkan output pembelajaran yang maksimal,” ungkapnya.

Di hadapan tidak kurang 80 guru, Prof AT juga menyampaikan, gambaran perjuangan Bung Karno dalam menggelorakan Pancasila sebagai jati diri bangsa, ideologi bangsa, pandangan hidup bangsa Indonesia di depan peserta sidang PBB. Sidang pertama kali saat itu, ia bicara ideologi Pancasila, ternyata mendapat tanggapan dan kekaguman peserta sidang.

Untuk itu, menanamkan nilai-nilai pancasila kepada peserta didik menjadi kewajiban, dan guru mendidik, membimbing, fasilitator bagi anak agar menjadi anak yang berkarakter dan berjati diri, tambahnya.

Kepala Sekolah Drs H Bambang Nianto MEd mengemukakan, kedatangan Prof AT mendapat apresiasi positif. ia menyatakan para guru di sekolah ini, mendapatkan penyegaran kembali mengenai pembelajaran dan kurikulum berkarakter serta mengingatkan akan pentingnya penanaman nilai-nilai Pancasila. “Bahkan ia berharap perlu ditindaklanjuti program-program pendampingan selanjutnya, harapnya.

Eko Wulansari, guru sejarah yang juga alumni Unnes itu, mengatakan kehadiran profesor kali ini, sangat bermanfaat bagi guru. “Program ini memberi inspirasi dan penyegaran kembali penanaman pendidikan karakter agar sesuai yang diharapkan,” katanya.

Sugimin, seorang guru di SMA itu, menanyakan apa yang harus kita lakukan sebagai guru terkait dengan ideologi dan politik luar negeri. Ia menjawab politik luar negeri merupakan egoisme nasional, ada kepentingan untuk bangsa dan negara, sebagai contoh berhati hatilah apabila mendapat bantuan dari luar negeri, pasti ujung-ujungnya ada pamrih dan misi yang dibawa.

Ia berpesan, “bentengi diri bangsa kita dengan sumber daya manusia yang berkarakter, Pancasila sebagai ideologi, pandangan hidup, karakter bangsa indonesia harus diyakini oleh bangsa Indonesia bukan bangsa lain,” tegasnya.

Sumber : Unnes.ac.id

LEAVE A REPLY