Namaku Rinai, aku hanyalah seorang gadis kecil yang baru beranjak dewasa yang beberapa tahun lalu mungkin belum terlalu jauh mengenal cinta. Dulu yang ku tahu hanyalah cinta kepada Sang Maha Pencipta, kepada Ayah dan Bunda serta kepada adik kecilku. Barulah di usia ku yang ke 19 ketika 2 tahun yang lalu ku menemukanmu, diriku mulai belajar merasakan makna cinta yang nyata.

Malam ini, di bawah terangnya bulan purnama dan kelap-kelip gemintang. Ada perasaan sendu yang mulai merasuk ke dalam kalbuku. Perasaan yang sesekali muncul ketika aku merasa tak pantas untuk mengenalmu sesuai caraku. Pun ketika sebenarnya aku merasa senang tatkala mengenangmu, tapi terkadang mendadak persaan itu berubah menjadi kecemasan tiada terkira.

Aku cemas,,,, karena banyak yang bilang rasa cinta itu bagaikan butiran pasir di tepi pantai yang selalu berharap kau pungut untuk kau jadikan istana pasirmu. Namun, disisi lain aku sadar, setiap detik pasir itu dapat hanyut oleh ombak ke tengah lautan dan menghantam batu karang. Setiap saat bisa terinjak dan setiap saat pula bisa terkontaminasi. Sakit.. ??? Iya pasti. Apalagi pasir itu akan bercerai-berai saling berhamburan entah kemana.

Maka dari itu, aku tak mau menganalogikan rasa cintaku padamu seperti pasir. Aku ingin mencintaimu dengan caraku sendiri. Cinta yang sederhana….. Bukan pula seperti petuah Sapardi Djoko Damono yang mengatakan bahwa “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Tapi cintaku seperti ini :
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana seperti oksigen yang setiap saat kau hirup tapi tak akan pernah ada habisnya. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana seperti embun yang tak pernah butuh warna untuk membuat daun jatuh cinta”.

And the last, but not least. Aku akan tetap menjadi seorang Rinai yang akan selalu menjadikanmu special diantara para adam yang lainnya. Aku akan tetap menjadi seorang Rinai yang akan selalu bergetar hatinya, ketika namamu tersebut di telingaku. Aku akan tetap menjadi seorang Rinai yang setia menari-nari kan jari jemariku di atas kertas. Dan aku akan tetap menjadi seorang Rinai di bawah anggunnya rembulan yang selalu setia menanti takdir yang telah Tuhan tetapkan.

Oleh : Lastry Koesoema Arie (http://catatankecilpemimpi.blogspot.com)

LEAVE A REPLY