Ada sebuah metode berpikir yang sangat saya sukai, namanya “design thinking”, cara berpikir desain. Ya, barangkali dinamakan demikian karena memang cara berpikir ini secara alamiah terbentuk dalam kepala para desainer setelah melalui banyak proses mendesain. Desain yang kita bicarakan di sini adalah desain dalam ranah apapun : grafis, interior, arsitektur, tata kota, produk, kemasan, fashion, dan berbagai bidang desain lainnya. Kamu yang cukup sering mendesain, mungkin kamu -sadar ataupun tidak, menggunakan metode berpikir ini.

Cara berpikir desain ini sangat oke untuk menggenerasi sebuah ide atau solusi. Dalam cara berpikir ini, di tahap awal, desainer memulai dari memahami masalah yang sifatnya mendasar dan besar saja, kemudian membayangkan goal yang ingin dituju, setelah itu baru membangun jembatan detail antara kondisi yang dianggap ideal dengan kondisi riil.

Tidak seperti metode berpikir yang kita pelajari dari pendidikan konvensional kita, terutama dalam ilmu pasti, bahwa untuk memecahkan suatu permasalahan kita harus mulai dari pengumpulan informasi sebanyak-banyaknya mengenai masalah yang ingin kita selesaikan. Baru setelah itu, informasi-informasi tersebut kita olah, lalu hasil analisis akan menunjukkan kepada kita apa solusi yang tepat bagi permasalahan tersebut.

Apa perbedaan antara kedua metode berpikir diatas?

Kedua metode berpikir tersebut memang bisa saja berawal dari permasalahan. Nah, dalam cara berpikir desain, yang menjadi fokus adalah goal, solusi akhir, perubahan yang tercipta, baru ditarik ke kondisi riil atau masalah yang ada (tetapi, dalam banyak kasus, dengan cara berpikir desain tujuan bisa diciptakan terlebih dahulu, baru dicari masalah yang mendasarinya). Desainer terbiasa untuk membayangkan “apa yang keren?”, “apa yang ideal?”, “perubahan apa yang kita inginkan?”, atau bahkan “hal tidak mungkin apa yang paling mungkin kita capai?”. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan sarat imajinasi. Disana, desainer membayangkan masa depan. Baru setelah itu desainer berpikir bagaimana mencocokkan dan menerapkannya pada kondisi saat ini. Pendekatannya adalah future to present.

Sementara itu, pada metode berpikir kedua, metode berpikir yang umum diajarkan dalam pendidikan kita, kita menyelesaikan masalah dengan meniti jalur labirin masalah itu sendiri. Kita berpikir sesuai apa yang kita punya, maka pengumpulan informasi sangat vital di sini. Tetapi, seberapa lengkap pun informasi yang kita miliki, proses berpikir dalam mencari solusi akan sulit untuk melompat keluar dari “kotak” permasalahan yang kita hadapi. Jika kita sering dengar ada istilah ide yang “out-of-the-box”, maka ide yang dilahirkan dari metode berpikir ini katakanlah ide yang “inside-the-box”.

Contoh produk yang lahir dari proses berpikir desain adalah iPhone. iPhone lahir dari sebuah imajinasi yang kuat tentang masa depan dan pemahaman yang mendalam tentang manusia. Siapa yang pernah membayangkan sebuah perangkat seperti iPhone? Sebuah telepon seluler, tanpa physical keyboard, hanya ada satu tombol di muka, dengan interface yang sederhana-memudahkan-keren, dan banyak inovasi lainnya dibanding produk telepon seluler lainnya di masa ketika iPhone pertama kali diperkenalkan. Tak lama setelah itu, peta pasar telepon seluler pun berubah drastis.

Apakah mungkin iPhone tercipta dengan cara berpikir problem-based? Sulit saya rasa memunculkan imajinasi tentang alat seperti iPhone hanya dengan menelusuri permasalahan yang kita punya di masa saat masalah itu ada. Dengan cara berpikir problem-based, mungkin kita bisa ciptakan sebuah ponsel dengan desain lebih ergonomis, ukuran yang lebih tepat, tampilan menu yang lebih rapi, dan semacamnya. Tetapi iPhone telah meredefinisi apa itu telepon seluler, menciptakan lompatan ke luar kotak permasalahan.

Teringat sebuah quotes dari salah satu manusia paling jenius-kreatif yang dicatat sejarah, Albert Einstein,

“We can not solve our problems with the same level of thinking that created them.

Cara berpikir inilah yang kami coba terapkan sejak menyusun visi BEM UI 2012. Ya, saya katakan kami mencoba, karena cara berpikir ini secara setengah-setengah kami terapkan ketika menyusun visi, nilai, dan cara bergerak BEM UI -karena saat itu kami bahkan belum menyadari bahwa ini adalah sebuah metode berpikir. Kami baru menyadari bahwa ini adalah sebuah metode berpikir yang mandiri, terdiferensiasi, dan memang sudah banyak dipelajari dan diterapkan di negara-negara maju setelah menjalani 2-3 bulan pertama kami di BEM UI.

Dalam artikel-artikel selanjutnya, saya akan coba membagi apa yang saya punya mengenai cara berpikir desain, terutama dari apa yang saya rasakan ketika bekerja sebagai desainer grafis 🙂

Sumber : Yasir Mukhtar

LEAVE A REPLY