Sebuah kebanggaan menjadi seorang perempuan. Kalimat ini yang sepertinya paling pas untuk mewakili rasa kesyukuran telah dilahirkan sebagai sosok perempuan. Bukan berarti mendiskreditkan seorang laki-laki. Karena hakikatnya antara laki-laki dan perempuan itu saling melengkapi.

Kenapa bangga menjadi perempuan? Karena perempuan merupakan ujung tombak dari lahirnya generasi-generasi pembangun peradaban?

Kenapa menjadi ujung tombak? Karena ketika kita nantinya menjalankan peran sebagai seorang ibu, kitalah yang mempunyai tanggungjawab untuk mendidik seorang anak. Ketika perempuan tak memiliki moral yang tinggi, lalu akan seperti apakah generasi selanjutnya?

Kita lihat relita sekarang ini, terlepas dari anggapan bahwa perempuan itu lemah, perempuan itu korban dari segala tindak kejahatan. Tapi, ternyata survei membuktikan bahwa anggapan itu tidaklah benar. Bahkan banyak terjadi kasus yang diluar dugaan bahwa perempuan pun tak selamanya jadi korban, justru merekalah yang jadi pelaku atas tindak kriminal. (*hasil sharing dengan ketua Pusat Studi Wanita Unnes)

Mungkin demoralisasi dari seorang perempuan bisa kita lihat dari lingkungan terdekat kita. Pernahkah melihat seorang perempuan merokok? Pernahkah melihat seorang perempuan mengenakan pakaian yang justru mengundang adanya tindak asusila? Pernahkah melihat perempuan dan perempuan menjalin sebuah ikatan yang tak lazim? Pernahkah melihat seorang perempuan yang rela menjual tubuhnya hanya untuk mendapatkan lembaran rupiah? Dan masih banyak realita yang mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Kaum feminis berkata bahwa kedudukan perempuan setara dengan laki-laki. Tapi pemaknaan setara tak ubahnya dengan menuntut kesamaan dalam segala hal… Menuntut adanya poliandri karena poligami disahkan, menuntut pembebasan busana, dan sekian tuntutan yang sudah di luar etika…

Lalu, ketika seorang perempuan mengalami demoralisasi, bagaimana dengan nasib generasi penerus?

Tahukah? Ketika seorang perempuan kembali memaknai ‘betapa mulianya seorang perempuan dilahirkan’? Maka yang hadir adalah naluri kita untuk bergerak memperbaiki moral diri dan memberi inspirasi untuk dunia. Karena kita adalah perempuan. Sosok yang menjadi penentu arah dari generasi pembangun peradaban

Oleh : Hira Monica Anjar Pratiwi

LEAVE A REPLY