cahUnnes.com – Dua tahun sudah program  Pendidikan Profesi Guru (PPG)  terlaksana. Model pendidikan berasrama dinilai bentuk paling ideal untuk mendidik guru masa depan yang profesional. Pendidikan berasrama memungkinkan pembentukan karakter guru secara intensif.

Di Unnes, program  yang telah berjalan hingga 3 angkatan ini telah meluluskan 268 mahasiswa PPG SM3T.  Sejak 2012, calon guru tersertifikasi yang menempuh PPG di Unnes wajib tinggal di asrama. Pasalnya, kode etik keprofesionalan guru dianggap perlu diajarkan lewat pendidikan berasrama.

“Asrama khusus calon guru tak boleh diwujudkan asal-asalan. Harus ada regulasi yang mengatur peserta asrama dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Kurikulum non- akademik di asrama juga wajib dijadikan pertimbangan kelulusan untuk menanamkan karakter pendidik yang cakap kepribadian dan sosial,” ungkap Prof. AT. Soegito.

Wacana ini mengemuka dalam kegiatan Penyusunan Panduan Pendidikan Karakter Mahasiswa PPG Berasrama dalam Rangka Mempersiapkan Guru Profesional Masa Depan, Rabu (12/3) di Grand Wahid Hotel, Salatiga. Ikhtiar ini dilakukan untuk mewujudkan komitmen Unnes dalam memperkuat ciri Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Asrama mesti jadi tempat tinggal yang baik bagi peserta PPG SM-3T untuk membina karakter dan membumikan nuansa multikultural.

Senyampang dengan kurikulum pendidikan berasrama bagi peserta PPG, Prof Rasdi berpendapat, asrama tentu saja harus melahirkan guru yang dicita-citakan,  “harus punya keahlian dalam subject matter, pintar merancang perangkat pembelajaran, menguasai seni mengajar, dan pandai menimbang (evaluasi-red), “ ungkapnya.

Selain Prof Rasdi dan Prof AT Soegito, pertemuan yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Profesi (LP3) Unnes ini menghadirkan tiga narasumber lainnya, yaitu Prof Muhammad Jazuli, Prof Dr Maman Rahman MSc, dan Prof Dr Susanto. Perumusan panduan pendidikan karakter mahasiswa PPG berasrama direncanakan berlangsung  hingga esok pagi (13/2).

Sumber : Unnes.ac.id

LEAVE A REPLY