SEMARANG, cahUnnes.com – Lazimnya penulisan akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital. Namun, hal berbeda dilakukan Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang menuliskan nama akronim kampus dengan seluruhnya menggunakan huruf kapital.

Kebijakan Unnes yang mewajibkan penulisan akronim dengan seluruhnya menggunakan huruf kapital bertentangan dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Sontak kebijakan yang disosialisasikan melalui jejaring media sosial facebook Unnes (14/10/2017) itu menuai protes.

Meski mendapat protes dari berbagai pihak, pengelola halaman facebook Unnes berdalih penulisan “Unnes” menjadi “UNNES” sudah dikonsultasikan dengan beberapa ahli dan pimpinan. Perubahan penulisan sebagai sebuah nama dan branding.

Bukan hanya itu, Unnes yang selama ini dianggap sebagai lembaga pendidik calon pendidik—termasuk pendidik bahasa Indonesia—justru menyetarakan penggunaan namanya dengan group band Repvblik, yang membiasakan para fan mengucapkan nama dengan “Republik”. “Sebatas disarankan ke mitra luar UNNES. Seperti grup Band REPVBLIK. Akhirnya yang menyesuaikan adalah masyarakat. Ke dalam bisa ada sanksi. Ke luar tidak perlu sangsi,” tulis pengelola halaman Facebook milik Unnes, Selasa (16/10/2017) pagi.

Kebijakan ini sedang diujicobakan ke pihak internal. Untuk mitra Unnes dipersilakan untuk menulis sesuai dengan kaidah dan kenyamanannya masing-masing, tulis pengelola halaman facebook Unnes pada salah satu komentar.

Selain penggunaan huruf kapital, Unnes juga melarang penerjemahan nama kampus ke berbagai bahasa. Namun peraturan itu tak berlaku surut alias tak berlaku pada penulisan yang sebelumnya sudah ada, seperti di ijazah. Pasalnya, pada ijazah yang sudah dikeluarkan, Unnes masih menggunakan nama diri sebagai Semarang State University. “Tidak berlaku surut. Mohon diperhatikan non-retroactiveness,” imbuh pengelola.

LEAVE A REPLY